(CATATAN: 5 Juni 2008)
Pertama kali dengar kata lingkungan, apa yang pertama kali terlintas di benak saudara? Tempat yang mendukung kita untuk hidup? Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar sistem tubuh individu. Karena perannya yang begitu penting, seharusnya sudah selayaknya kita menjaga lingkungan, karena dengan begitu keberlangsungan hidup kita juga akan dipertaruhkan. Sayangnya ulah manusia penghuni bumi ini justru sebaliknya, banyak kerusakan yang timbul di muka bumi akibat dari aktivitas manusia. Tak perlu jauh melihat atau menunjuk siapa, secara sadar ataupun tidak kita turut memberi kontribusi terhadap perusakan lingkungan.
Ok…back to Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebenarnya sejak kapan Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati, apa tujuannya dan bagaimana kita memaknainya. Sebenarnya awal mula adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah adanya Konferensi Internasional pada tanggal 5 – 16 Juni 1972, untuk pertama kalinya diadakan konferensi internasional lingkungan hidup “Human Environment“. Konferensi internasional ini merupakan pertemuan umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia. Maka jadilah berdasarkan resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) No. 2994 (XXVII), 15 Desember 1972, tanggal 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia. Setiap negara pada setiap 5 Juni memperingati hari lingkungan hidup dengan berbagai macam kegiatan. Isu-isu lingkungan selalu diangkat setiap peringatan hari lingkungan hidup, seperti pembangunan berkelanjutan, advokasi lingkungan, pendidikan lingkungan, dan lain sebagainya. Dengan harapan adanya peningkatan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan yang baik. Tidak terkecuali Indonesia, sebagai salah satu masyarakat dunia juga turut memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah ditetapkan temanya oleh Badan Lingkungan Hidup Dunia atau UNEP (United Nations Environmental Programme) yaitu: “Co2 Kick The Habit, Toward a Low Carbon Economy” yang kemudian temanya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia menjadi “Ubah Perilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan”.
Tujuan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini tentunya tidak hanya sekedar simbolik saja tapi menuntut kita untuk berperan aktif mengurangi pencemaran dan menghambat laju kerusakan lingkungan. Sepintas kata-kata ini terdengar seperti slogan aja, klise dan sebagainya, tapi percaya deh ada banyak usaha-usaha yang sederhana untuk turut berperan serta secara aktif, contohnya menggunakan transportasi publik (walaupun yang ini jadi makin berat pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu) kurangi penggunaan motor dan kendaraan pribadi, berusaha memilah sampah yang akan kita buang berdasarkan jenisnya, sampah yang degradable dan non-degradable, hemat dalam penggunaan energi (maksimalkan cahaya yang masuk dalam ruangan, matikan alat-alat elektronik segera setelah tidak dipergunakan, hemat penggunaan air, dll) berusaha mendukung kegiatan pemerintah untuk mengurangi polusi/pencemaran seperti contoh di DKI Jakarta sudah ada kegiatan Car Free Day, Jakarta Green and Clean serta Bike to Work, semoga masih ada yang peduli dan tidak tinggal kata-kata.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda (ehm…ya Muda), paling tidak, kita punya beban untuk mencerdaskan diri sehingga bisa beri pengertian terhadap anggota keluarga lainnya dan teman-teman, serta mencoba peka terhadap lingkungan. Lingkungan emang ga bisa langsung teriak-teriak kalau terjadi kerusakan, beda dengan manusia yang reaktif, tapi lingkungan segera memberi ancaman yang nyata, seperti yang ramai dibicarakan yaitu fenomena pemanasan global beserta efek dominonya yang dahsyat seperti; terjadinya berbagai bencana alam seperti banjir dan longsor yang merenggut korban jiwa maupun harta, gejolak harga pangan, ancaman kelaparan, serta timbulnya penyakit-penyakit baru yang segera menjadi wabah, ya… kesemua itu karena kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, segera lakukan apapun yang kita bisa sekarang, sebab kalau kita berpikir “ah..kita kan ga seberapa ngerusaknya”, atau “kalau cuma kita emang ngaruh”, percaya deh semangat dan konsistensi teman-teman lambat laun akan bisa mempengaruhi sekitarnya untuk juga peduli terhadap lingkungan.
Buat yang bapak-bapak ataupun saudara-saudara yang sekarang terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan, waktunya untuk buka mata dan hati agar tidak melulu berorientasi pada kepentingan komersil tapi mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang arif dan berkelanjutan. Apakah uang nanti pada akhirnya bisa menolong ketika semua sudah benar-benar musnah? dan ada ungkapan yang saya suka “wariskan mata air pada generasi anak cucu kita, jangan wariskan air mata” (yah gitu deh kurang lebih).
Yuk kita coba untuk sama-sama berkontribusi aktif melestarikan lingkungan, sehingga bumi tetap menjadi tempat yang nyaman untuk di tinggali.
Our Environment, Our Planet, Just Save it!